Memahami Gangguan Ginjal

Membahas tentang ginjal, tak lepas dari jumlah air yang kita konsumsi, agar ginjal selalu berfungsi dengan baik. Namun, bagaimana apabila terjadi sebaliknya? Saat ginjal mengalami penurunan dalam hal fungsi, apakah minum air yang banyak dapat membantu organ vital tersebut menjadi lebih segar? Atau hemodialisis atau cuci darah menjadi satu-satunya solusi untuk mengentaskan masalah ini?

Anjuran agar kita mengonsumsi air putih sebanyak dua liter sehari, sepertinya tak hanya sekadar “wejangan” belaka, melainkan bisa dikategorikan sebagai kewajiban, kebutuhan yang harus kita penuhi, agar tubuh tetap sehat, bugar, dan terhindar dari penyakit. Apalagi, bagi Anda yang padat aktivitas.

Menurut dr. Sri Ayu Vernawati, SpPD (Konsultan Ginjal – Hipertensi) Rumah Sakit Premier Bintaro, jumlah air tersebut berlaku bagi kita yang muda-dewasa dengan aktivitas standar. Bagi Geriatri (usia 60 tahun ke atas), dengan aktivitas standar harian berkisar sekitar 1500 ml/hari atau satu setengah liter air setiap hari. Mengapa demikian? Karena para manula biasanya memiliki hormon antidiuretik dengan kadar yang lebih tinggi. Yaitu suatu hormon yang mengatur keseimbangan air dalam tubuh.

Gangguan Ginjal

Pengecualian ini juga berlaku bagi penderita gangguan ginjal. Jumlah rutin konsumsi air, tergantung derajat problem pada ginjal atau kemampuan ginjal tersebut mengeluarkan urin dan perkiraan jumlah penguapan tubuh.

Sebenarnya, apa penyebab gangguan ginjal?
“Sebagian besar penyebab gangguan ginjal di Indonesia karena hipertensi, diabetes yang telah diderita sekitar 10-15 tahun. Penyebab lainnya bisa akibat peradangan ginjal, batu, serta dampak obat-obatan yang berlangsung lama”, terang dr. Verna.

Demi menjaga kesehatan ginjal, kita harus peduli dengan kesehatan secara umum, yaitu dengan mengecek tekanan darah, gula darah, dan check-up lain secara teratur. Setidaknya, saran ini berlaku bagi Anda yang sudah berusia 30-35 keatas.

Ketika ginjal mengalami gangguan atau rusak, sisa-sisa metabolisme tubuh dan cairan berlebih bisa tertimbun di dalam tubuh. Akhirnya dapat menyebabkan terjadinya pembengkakan pada tubuh antara lain bagian kaki, mual, merasa lemas, sesak napas.

Gangguan ginjal merupakan salah satu kondisi yang berbahaya. Jika tidak tertangani dengan baik dan benar, bisa terjadi kegagalan fungsi ginjal. Jika ginjal berhenti berfungsi, akibatnya bisa fatal.

Gangguan ginjal kronis terjadi dalam beberapa stadium (1-5). Hal ini dinilai antara lain melalui pemeriksaan laboratorium, radiologis, dan sebagainya. Pada gangguan ginjal kronis stadium 5 (PGK 5) ketika fungsi ginjal kurang dari 15%, disertai gejala seperti muntah, sesak nafas, dan bengkak tubuh maka perlu dilakukan terapi pengganti ginjal. Jika dikehendaki oleh penderita atau pasien, pilihannya saat ini ada 3 yaitu Hemodialisis, CAPD atau transplantasi ginjal.

Hemodialisis

Pengobatan yang dilakukan pada pasien gagal ginjal kronis, bertujuan mengurangi gejala, memperlambat perkembangan penyakit, serta mencegah munculnya kondisi lain yang lebih serius. Hingga kini, belum ada obat yang bisa menyembuhkan gagal ginjal kronis.

Memahami Ginjal

Pada sebagian orang, gagal ginjal kronis bisa berada pada stadium akhir dimana dapat mengancam nyawa, atau disebut dengan istilah ESRD (End Stage Renal Disease). Salah satu terapi pengganti ginjal yang bisa dilakukan yaitu dengan prosedur Hemodialisis.

Hemodialisis berasal dari kata “hemo” artinya darah, dan “dialisis” berarti pemisahan zat-zat terlarut. Hemodialisis berarti proses pembersihan darah dari zat-zat sampah, melalui proses penyaringan di luar tubuh. Hemodialisis menggunakan ginjal buatan berupa dialiser dan mesin dialisis. Hemodialisis dikenal secara awam dengan istilah ‘cuci darah’ (Wikipedia).

RS Premier Bintaro merupakan salah satu dari sedikit rumah sakit di Tangerang Selatan yang memiliki fasilitas Hemodialisis lengkap. Rumah sakit ini juga memiliki deretan dokter dan perawat ahli yang siap memberi pencerahan, pengetahuan, dan melayani Anda bila ingin melakukan hemodialisis.

Pilihan terapi pengganti ginjal lainnya adalah transplantasi ginjal. Transplantasi ini menanamkan ginjal dari donor hidup atau cadaver manusia ke recipient atau penerima yang mengalami gagal ginjal tahap akhir.

Kebiasaan Positif Berikut beberapa langkah untuk mencegah terjadinya gagal ginjal kronis. Antara lain, pola makan sehat, menghindari merokok dan minuman keras, berolah raga secara teratur, dan berhati-hati dalam mengonsumsi obat-obatan tertentu.

Mereka dengan kondisi-kondisi tertentu yang berisiko mengarah kegangguan ginjal kronis, seperti diabetes dan tekanan darah tinggi, disarankan untuk mewaspadai perkembangan penyakit mereka.

Tentu saja, siapapun tak ingin mengalami gangguan pada ginjal. Untuk itu, mulai sekarang perlu diperhatikan hal-hal atau kebiasaan yang nantinya bakal menggiring Anda ke masalah yang lebih parah. Misalnya, malas minum air putih yang cukup, menahan-nahan buang air kecil, atau terbiasa mengonsumsi obat yang tidak tahu komposisi dan dosis. Jadi, mulai sekarang biasakan hidup sehat dan rajin minum air putih.