Jangan Sepelekan Gangguan Irama Jantung

jangan-sepelekan-gangguan-irama-jantung

Dalam periode tertentu, denyut jantung memiliki irama. Irama jantung itu menandakan apa yang dialami oleh jantung dan tubuh kita. Bila irama jantung teratur kondisi tubuh kita dalam keadaan normal. Sebaliknya, jantung berdenyut tidak teratur, artinya ada yang tidak beres dengan kerja jantung kita, yang dampaknya akan dirasakan dengan gejala-gejala tubuh yang lain. Keadaan yang demikian diartikan telah terjadi gangguan pada irama jantung.

Dalam keadaan normal dan istirahat, jantung orang dewasa akan berdenyut teratur antara 60-100 detak/menit. Kecepatan denyut itu ditentukan oleh kecepatan dari signal listrik yang berasal dari pemacu jantung, SA node. Signal listrik dari SA node mengalir melalui kedua serambi, menyebabkan kedua serambi berkontraksi mengalirkan darah ke kedua bilik. Kemudian signal listrik ini mengalir melalui AV node mencapai kedua bilik. Ini menyebabkan kedua bilik berkontraksi memompa darah ke seluruh tubuh dan menghasilkan denyutan (pulse).

Apa Saja Gangguan Irama jantung?

Menurut dr. Beny Hartono, Sp.JP, FIHA, Spesialis Penyakit jantung & Pembuluh Darah, Rumah Sakit Premier Bintaro, terdapat beberapa gangguan irama jantung yang harus diwaspadai.

“Gangguan-gangguan ini seringkali diabaikan oleh penderita. Padahal dampaknya bisa berbahaya,
bahkan bisa berujung pada kematian bila didiamkan,” ujar dr. Beny.

Yang pertama adalah Kelainan Irama Jantung yang Melambat (Bradikardi). Selain karena serangan jantung dan obat-obatan, penyebab gangguan ini biasanya kurangnya impuls listrik dari SA node atau kerusakan AV node, sehingga ibarat aki yang soak, jantung tidak dapat berfungsi dengan baik. Keadaan ini dapat berdampak pada rasa pusing keleyengan, cepat lelah, hingga merasa mau pingsan.

“Kerusakan SA node atau AV node biasanya terjadi pada penderita usia 60 tahun ke atas akibat proses degenerative atau penuaan dari fungsi organ,” dr. Beny menegaskan. Gangguan yang kedua adalah Kelainan Irama Jantung yang Cepat (Takikardi). Yang paling sering ditemui adalah Supraventrikel Takikardi (SVT), di mana denyut jantung tiba-tiba akan menjadi sangat cepat sehingga pasien berdebar-debar, bahkan terkadang disertai sesak nafas dan mau pingsan.

“Ada beberapa penyebab SVT, yakni konsleting listrik di daerah AV node, terdapat jalur bypass antara serambi ke ventrikel atau disebut sindrom WPW, serta fokus listrik di serambi jantung yang sangat aktif,” terang dr. Beny.

Pada umumnya SVT tidak menyebabkan fatalitas, namun sebaliknya takikardi yang berasal dari bilik jantung (Ventrikel Takikardi) atau VT dapat menyebabkan kematian mendadak bila tidak segera ditangani.

“Penyebab utama VT adalah kerusakan otot jantung akibat serangan jantung. Penyebab lain seperti kelainan genetik dari sel listrik bilik jantung, abnormal aktivitas listrik di daerah outflow tract bilik jantung dan perputaran (re-entri) jalur konduksi di bilik jantung,” dr. Beny memaparkan.

Gangguan berikutnya adalah Kelainan Irama Jantung yang tidak Teratur. Gangguan ini membuat irama jantung menjadi tidak menentu, kadang cepat, kadang lambat, dan tidak teratur antara satu denyut ke denyut yang lain. Kejadian irama seperti ini yang paling sering adalah Atrial Fibrilation (AF). Faktor risiko gangguan ini adalah usia lanjut, hipertensi, kencing manis, penyakit tiroid dan adanya penyakit jantung koroner.

“Yang ditakutkan pada AF ini adalah kejadian stroke yang lebih tinggi dan menurunnya fungsi pompa
jantung,”

Bagaimana Menangani Gangguan Irama Jantung?

Teknologi dalam dunia kedokteran sudah semakin maju. Termasuk teknologi diagnosis dan penanganan gangguan irama jantung. Bagi penderita yang merasakan gejala, sudah sepatutnya harus didiagnosis dengan tepat dan dilanjutkan dengan penanganan yang tepat pula.

Selama proses diagnosis, akan dilakukan pemeriksaan Elektrokardiografi (EKG) untuk merekam aktivitas listrik jantung. Namun EKG hanya berguna jika aritmia yang menyebabkan ketidaknyamanan terjadi pada saat tes EKG dilaksanakan.

Bila EKG tidak dapat menangkap aritmia atau gangguan pada irama jantung, maka digunakanlah monitor yang merupakan alat perekaman yang dipakai pasien terus menerus selama 24 jam ketika ia beraktivitas. Beberapa tes provokasi lain akan dilakukan bila kelainan irama tidak ditemukan, seperti treadmill test, dan tilt table test atau dilakukan pemasangan ILR (Implantable Loop Recorder) yang bisa merekam irama jantung lebih lama.

Penanganan bergantung pada kelainan irama pasien. Pada pasien dengan irama jantung lambat yang bergejala, dapat dilakukan pemasangan pacu jantung (pacemaker). Pasien dengan irama fatal (VT atau VF) dapat dipasang alat defibrilasi (ICD=Implantable Cardiac Defibrilator). Sedangkan pasien dengan irama cepat, dapat dilakukan tindakan kateter ablasi.

“Di RS Premier Bintaro sendiri telah memiliki fasilitas mutakhir dari diagnosis maupun terapi kelainan irama jantung, termasuk penanganan dengan ablasi. Ablasi sendiri merupakan tindakan invasif tanpa bedah untuk mengatasi gangguan irama jantung, terutama irama jantung cepat dengan menggunakan kateter yang dimasukkan ke dalam ruang jantung. Dengan penanganan komprehensif ini, kita akan dapat meredam risiko mematikan dari gangguan jantung,” tutup Dr. Beny.

lobby