Kenali Kaki Diabetes Dan Pencegahannya

dr-Wardoyo-RS-Premier-Bintaro-Diabetes-Kaki

Diabetes Mellitus Atau Kencing Manis Merupakan Penyakit Metabolik Yang Terjadi Karena Kadar Gula Dalam Darah Meningkat Akibat Gangguan Sistem Metabolisme Dalam Tubuh. Biasanya Gejala Awalnya Ditandai Dengan Buang Air Kecil Dan Perasaan Haus Yang Terus Menerus, Juga Penurunan Berat Badan. Fenomena Penyakit Diabetes Yang Akhir-akhir Ini Sering Dihadapi, Bukan Tidak Mungkin Menjadi Momok Bagi Sebagian Orang. Menurut Data World Health Organization (Who) Pada Tahun 2000, Jumlah Penderita Diabetes Dikabarkan Meningkat Menjadi Sebanyak 150 Juta Jiwa. Bahkan Di Tahun 2025, Diramalkan Penderita Diabetes Akan Mencapai 333 Juta Jiwa.

Menanggapi hal ini, Spesialis Penyakit Dalam RS Premier Bintaro, dr. A.B. Wardoyo mengatakan, peningkatan tersebut terjadi oleh karena faktor keturunan, gaya hidup, pola makan yang tidak sehat, kurangnya berolahraga, banyak mengonsumsi kalori, lemak, dan minim mengonsumsi makanan berserat seperti buah, sayuran, dan terlalu banyak duduk.

“Sejalan dengan mekanisasi dan modernisasi kehidupan, kebanyakan masyarakat menjadi kurang bergerak badannya dan ditambah lagi dengan makanan cepat saji yang kalorinya tinggi. Kombinasi antara makan yang tidak sehat ditambah dengan
kurang bergeraknya badan, yang terjadi adalah kegemukan atau obesitas. Ketika sudah terjadi obesitas, maka terjadilah gangguan metabolisme gula yang menyebabkan diabetes dengan segala implikasinya,” terang dr. A.B Wardoyo.

Diabetes memang menciptakan kompleksitas multi organ yang tinggi. Kondisi buruk akibat gula darah, kolesterol, dan tekanan darah yang tidak terkontrol dengan baik tersebut biasanya menyerang lapisan dalam pembuluh darah dan pada akhirnya menyebabkan komplikasi ke organ atau bagian tubuh tertentu yang dialiri oleh pembuluh darah tersebut.

Salah satu implikasinya adalah komplikasi pada kaki atau dalam istilah medis disebut dengan diabetic foot. Aliran darah ke kaki yang sering kali terganggu akhirnya menimbulkan penyakit pembuluh darah perifer pada kaki. Pembuluh darah ini menyempit karena adanya timbunan lemak. Namun penderita diabetes tidak dapat merasakan sakit atau panas akibat penyempitan ini, sehingga yang terjadi adalah infeksi telah berkembang tanpa disadari oleh penderita.

“Kaki diabetes atau diabetic foot pada dasarnya terjadi karena syaraf tepi dan peredaran darah yang terganggu akibat gula darah yang sangat tinggi. Hal itulah yang membuat penderita tidak merasakan awal luka, ditambah peredaran darah yang menyempit menjadikan sulitnya penyembuhan luka tersebut,” imbuh dr. A.B

Lebih lanjut dr. A.B menjelaskan, kerusakan syaraf tepi menyebabkan penurunan kemampuan penderita dalam merasakan nyeri, karenanya kaki menjadi terasa kebal dan luka seringkali tidak disadari. Keadaan tersebut semakin diperburuk dengan kondisi penyumbatan pembuluh darah. Pasalnya pasokan oksigen dan nutrisi esensial yang berfungsi sebagai reparasi dan penyembuh luka menjadi tidak mencukupi, zat-zat untuk menutup luka pun menjadi tidak sampai karena pembuluh darah yang tersumbat. Hal itulah yang memperlambat penyembuhan luka dan jika semakin buruk dapat menyebabkan infeksi.

Pada kondisi demikian, penderita diabetes menjadi 25 kali lebih mungkin kehilangan kakinya karena amputasi. Namun sebuah tindakan amputasi kaki pada penderita diabetes dapat dicegah dengan perawatan mandiri yang baik dari kaki penderita diabetes.

“Para dokter dan ahli kesehatan selalu berusaha untuk menghindari tindakan amputasi. Amputasi adalah pilihan tindakan yang paling akhir. Karena secara psikologis, tidak ada orang yang mau diamputasi, biayanya juga tidak murah. Disamping itu jika seseorang diamputasi, katakanlah hanya satu atau dua jarinya diamputasi, maka dia akan menjadi cacat. Akibatnya pasca amputasi, pasien penderita tidak bisa berjalan dengan seimbang dan titik tumpunya beralih pada kaki yang tidak diamputasi. Lama kelamaan, kaki yang tidak diamputasi itu juga akan terkena problem. Kini dengan kemajuan teknologi pengobatan vascular, maka angka amputasi menjadi sangat berkurang. Dengan semakin minimnya angka amputasi, maka harapan pasien penderita semakin besar. Tetapi memang yang lebih penting itu adalah pencegahan. Kalau sudah didapat adanya komplikasi, harus cepat ditangani agar komplikasinya tidak semakin memburuk,” tutur dr. A.B.

Pencegahan Dan Perawatan Kaki Diabetes

Berbicara ihwal pencegahan, mencegah diabetes mellitus sejak dini memang sangat diperlukan. Pencegahan diabetes sejatinya dibagi menjadi tiga macam. Pencegahan tingkat satu, yaitu pencegahan awal sebelum orang tersebut menderita diabetes. Pencegahan tingkat dua, yaitu jika seseorang sudah terkena diabetes agar jangan sampai terkena komplikasinya. Sedangkan pencegahan tingkat tiga, ialah jika seseorang sudah terkena komplikasi diabetes agar jangan sampai komplikasi itu semakin memburuk.

Pencegahan diabetes secara serius dan disertai dengan tindakan preventif juga diperlukan bagi mereka yang memiliki potensi untuk terkena penyakit kencing manis tersebut. Mereka adalah:

  1.  Anak-anak dari orangtuanya yang lebih dulu terkena diabetes.
  2. Seseorang dengan kelebihan berat badan atau obesitas.
  3. Orang yang memiliki usia 40 tahun ke atas. Pada usia 40-40 keatas, seseorang sudah mulai abai terhadap kesehatannya.
  4. Orang yang mempunyai tekanan darah dan kolesterol yang tinggi.
  5. Ibu yang ketika hamil dirinya menderita diabetes gestasional. Dimana pada saat hamil, gula darahnya menjadi tinggi. Namun setelah melahirkan, gula darahnya normal kembali. Jika ibu dengan diabetes gestasional ini tidak melakukan pencegahan preventif, maka kemungkinan dirinya terkena diabetes akan semakin besar.
  6. Orang yang pada saat melakukan dinyatakan gula darahnya sedikit tinggi pada saat melakukan medical check up. Dalam hal ini gula darahnya lebih tinggi dari gula darah normal, tetapi belum cukup tinggi untuk memenuhi kriteria kencing manis.
  7. Orang dengan pola hidup tidak sehat.

“Tindakan pencegahan dini bagi mereka yang berpotensi terkena diabetes tersebut adalah sudah pasti dengan berpola hidup sehat dan berolahraga. Juga lakukan medical check up setahun sekali sebagai pendeteksian dini terhadap peningkatan gula darah, sehingga orang tersebut bisa melakukan pencegahan preventif tingkat satu,” jelas dr. A.B.

Namun bagi mereka yang sudah terlanjur menderita diabetes, terutama dengan komplikasinya ke kaki atau diabetic foot, ada langkah-langkah agar komplikasi tersebut tidak semakin memburuk. Diantaranya dengan melakukan perawatan kaki penderita diabetes. Bahkan jika memungkinkan, kunjungi Klinik Kaki Diabetes secara rutin untuk mendapat perawatan kaki yang baik.

“Pada pasien dengan diabetic foot, dianjurkan untuk melakukan perawatan kondisi kaki minimal setahun sekali. Kalau ternyata kaki yang diperiksa ini bermasalah, maka dianjurkan pemeriksaan setahun 2 kali. Pada pelayanan Klinik Kaki Diabet, inilah bisa dinilai kondisi pembuluh darah, syaraf, dan bagaimana pasien merawat kakinya. Seperti bagaimana mencuci kaki yang baik, alas kaki yang baik, memotong kuku kaki yang baik dan senam kaki sebagai tindakan pencegahan agar komplikasinya tidak semakin memburuk,” papar dr. A.B.

lobby