Minimal Invasive Spine Surgery

Minimal-Invasive-Spine-Surgery

Pada prakteknya, teknik MISS dibagi menjadi dua, yakni teknik Fusion yang masih menggunakan implan seperti screw, cage, dan sebagainya. Juga teknik Non-Fusion yang menangani permasalahan tulang belakang sealami mungkin tanpa ada implan.

Perkembangan metode MISS kini lebih menggunakan teknik Non-Fusion. Arahnya adalah Endoscopy, mulai dari Micro Endoscopic Discectomy, serta update terbaru yakni Percutaneous Endoscopic Lumbar Discectomy (PELD), dan Percutaneous Laser Disc Decompression (PLDD).

Menurut dr. Harmantya Mahadhipta, Sp.OT (K) Spine, Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi Tulang Belakang RS Premier Bintaro, kedua update metode tersebut memberikan berbagai kemudahan dan keuntungan baik bagi dokter dan tenaga medis, maupun bagi pasien.

“Untuk PELD, metode ini merupakan full Endoskopi. Artinya tindakan dilakukan dengan sayatan yang seminimal mungkin. Untuk kasus Herniated Nucleus Pulposus (HNP) atau yang lebih dikenal dengan gangguan saraf terjepit misalnya, maksimal sayatan hanya 8mm. Dengan begitu tindakan bisa dilakukan dengan bius lokal dan kondisi pasien yang sadar,” ujar dr. Harmantya.

Selain itu, metode lain yang merupakan update dari MISS adalah Percutaneous Laser Disc Decompression (PLDD). Sesuai namanya, tindakan dilakukan tanpa sayatan karena menggunakan laser.

“Meski begitu bila kita bicara tentang HNP, tidak semua kasus dapat ditangani dengan metode PLDD. Tergantung tingkatan HNP tersebut. Ada jenis HNP yang tidak bisa ditangani dengan Laser, maka disarankan dilakukan tindakan Endoskopi,” dr. Harmantya menerangkan.

Tambahnya lagi, dengan PLDD tindakan bisa dilakukan one day care. Meski begitu success rate PLDD secara literatur masih lebih rendah dibandingkan dengan tindakan operasi atau, yakni sebesar 70-80 %.

Recovery Lebih Cepat

Dengan perkembangan metode tersebut, pasien tentu menjadi lebih diuntungkan. Dengan sayatan atau bahkan tanpa sayatan, skala waktu recovery akan menjadi jauh lebih cepat. “Logikanya, dengan sayatan yang minim rasa sakit akan jauh lebih ringan. Dengan begitu pemulihan akan lebih cepat. Waktu stay di rumah sakit juga akan lebih singkat, dampaknya biaya yang dikeluarkan pun akan menjadi lebih murah,” papar dr. Harmantya.

Meski begitu tak dipungkiri, masih banyak pasien yang lebih memilih ‘diam’ atas keluhan pada tulang belakangnya dibanding dilakukan tindakan. Alasan mulai dari biaya yang mahal hingga ketakutan akan terjadi kelumpuhan akibat operasi menjadi sedikit dari sekian banyak persepsi yang ada di masyarakat. Padahal menurut dr. Harmantya, hal itu tidak sepenuhnya benar.

“Mengenai biaya, sebenarnya merupakan hal yang relatif. Semakin dini terdeteksi, penanganan akan semakin mudah. Biayanya pun akan semakin murah. Sedangkan rasa takut akan kelumpuhan, itu adalah pemikiran yang salah kaprah. Kita ambil contoh HNP, tindakan yang diambil adalah pada bagian Lumbal 4–5, atau bagian bawah. Secara teori pun bila terjadi kesalahan saat tindakan operasi, saraf yang terganggu adalah saraf bagian pergelangan kaki atau jempol kaki. Jadi tidak perlu khawatir. Lagi pula teknologi semakin canggih, kita melakukan operasi dengan layar monitor yang sangat besar, saraf-saraf terlihat dengan sangat jelas,” dr. Harmantya menjelaskan.

Pasien yang datang dengan keluhan tulang belakang pun tidak serta merta langsung ditangani dengan tindakan operasi. Pasien HNP misalnya, pengobatan fisioterapi akan terlebih dahulu ditawarkan. Karena sebenarnya 80-90 % kasus HNP bisa sembuh dengan tindakan tanpa operasi.

Bila tidak mengalami perkembangan, tingkatan penanganan beralih ke pengobatan atau suntik. Biasanya bila sudah melewati rentang waktu selama 3-4 minggu. Bila semua metode itu tidak bisa menyembuhkan, baru akan dilakukan tindakan operasi.

“Jadi memang banyak faktor yang kita pertimbangkan sebelum melakukan operasi. Benar diagnosis, benar pilihan terapi, benar indikasi operasi, maka hasil yang dicapai akan maksimal,” tutup Dr. Harmantya.

lobby