Operasi Penggantian Sendi Kembalikan Produktivitas

Setiap orang tentu berharap hidupnya selalu sehat hingga usia lanjut. Tidak terkecuali Diah, 59. Baginya, kesehatan amatlah penting. Sebab, meski usianya sudah nyaris 60 tahun, ia masih aktif mengurus dua rumah makannya yang selalu ramai pengunjung.

Karena itulah, ia begitu risau ketika suatu waktu lutut kanannya terasa nyeri saat dipakai untuk berjalan. “Tepatnya dimulai dua tahun lalu. Saat itu saya coba biarkan dulu karena saya pikir cuma rematik biasa. Saya obati dengan pijit dan obat-obat biasa,” tutur Diah menceritakan kisahnya.

Namun, makin lama nyeri itu kian menghebat. Sekitar dua bulan lalu ia terpaksa menggunakan tongkat untuk berjalan. Jelas saja hal itu membuatnya terganggu. Yang lebih merisaukan, lutut kirinya juga ikut-ikutan nyeri.

Akhirnya, atas dorongan anak-anaknya Diah memeriksakan diri ke dokter. Setelah sempat berganti beberapa dokter, perjalannya berujung di Rumah Sakit Premier Bintaro (RSPB) Tangerang. Di sana, ia mendapat kepastian diagnosis penyakit di kedua lututnya, yakni osteoarthritis.

“Menurut dokter, satu-satunya langkah pengobatan saya harus dioperasi. Sendi lutut saya harus diganti. Awalnya takut juga. Tapi setelah ditimbang-timbang, akhirnya saya jalani operasi itu awal Juli lalu. Sekarang masih dalam tahap pemulihan, namun hasilnya bagus, saya sudah mulai latihan berjalan. Saya berharap bisa sembuh dan bisa bekerja lagi seperti semula,” kata Diah penuh harap.. Apa yang dialami Diah merupakan problem orang lanjut usia (lansia). Osteoartritis, atau yang sering disebut orang awam sebagai pengapuran sendi, pada dasarnya memang penyakit degeneratif yang umumnya terjadi pada kaum lansia.

“Penyakit itu akibat ausnya tulang rawan sendi di antara tulang-tulang pembentuk sendi lutut. Karena aus, tulang-tulang pada sendi tidak memiliki tulang rawan lagi. Akibatnya, sendi terasa nyeri ketika digerakkan,” jelas dokter spesialis ortopedi RSPB, Andito Wibisono, beberapa waktu lalu. Penuaan menjadi salah satu penyebab utama osteoartitis selain karena trauma dan penyakit tertentu seperti rematik, asam urat, dll. Namun, tidak semua orang lansia terkena osteoartitis. “Diduga, hal itu terkait faktor genetik,” imbuhnya.

Osteoartitis dapat terjadi pada semua sendi namun lebih sering menimpa sendi lutut dan pinggul. Selain menimbulkan nyeri hingga membatasi gerak penderitanya, penyakit itu juga bisa membuat kaki berubah bentuk jadi bentuk X atau O. Satu hal yang jadi persoalan dalam penanganan osteoartritis, tulang rawan sendi yang sudah aus tidak bisa pulih kembali. Satu-satunya penanganan dilakukan dengan operasi penggantian tulang rawan sendi yang disebut total knee replacement (pada lutut) atau total hip replacement (pada pinggul).

Dalam operasi itu, bagian tulang rawan yang rusak, dipotong, dan diganti dengan sendi buatan (prothese) yang terbuat dari bahan stainless steel atau cobalt dan plastik khusus. Sesudah operasi, pasien harus menjalani program rehabilitasi untuk memulihkan kekuatan otot dan geraknya bersama sendi buatan tersebut.

“Bila semua berjalan lancar, sendi buatan akan berfungsi sebagaimana sendi alami dan bisa bertahan hingga 15 tahun atau lebih. Penderita pun bisa produktif kembali,” jelas Andito.

Tim terpadu

Andito menjelaskan, operasi penggantian sendi lutut maupun pinggul makin canggih baik dari segi teknik operasi maupun sendi buatannya. Hal itu membuat tingkat keberhasilan operasi itu tergolong tinggi.

“Tingkat kegagalannya hanya satu persen yang lebih disebabkan karena kurangnya pengalaman dokter yang mengoperasi dan fasilitas RS yang kurang memadai,” ujar Andito.

Namun intinya, lanjut Andito, operasi itu memang harus dilakukan secara hati-hati dengan didahului pemeriksaan pendahuluan yang lengkap dan ditangani oleh tim dokter terpadu dari berbagai disiplin ilmu seperti yang dilakukan di RSPB. Mengingat, rata-rata pasien osteoartitis berusia lanjut dan tidak tertutup kemungkinan memiliki penyakit penyerta lain. “Jadi harus diperhitungkan masak-masak agar jangan sampai tindakan operasi yang dilakukan membuat penyakit lain kambuh atau bertambah berat.”

Yang perlu diingat, kata Andito, tingkat kekuatan dan kelenturan otot sendi lutut atau pinggul turut menentukan keberhasilan operasi dan kecepatan pemulihan pascaoperasi. Ia menyayangkan banyak pasien yang terlambat memeriksakan diri serta menunda-nunda operasi sehingga otot sendinya telanjur kaku dan susah digerakkan. Pada pasien yang demikian, operasi menjadi lebih sulit dilakukan.

“Kalau sendinya sudah lama bengkok, otot-ototnya susah untuk di lenturkan lagi. Nah, banyak pasien yang datang ke sini sudah terlambat untuk dioperasi. Harusnya di operasi 15 tahun yang lalu, tapi malah sekarang baru mau dioperasi,” cetus Andito.

Karena itulah, ia mengimbau agar mereka yang mengalami gejala osteoartitis untuk tidak ragu memeriksakan diri. Dengan demikian, diagnosis penyakit itu bisa ditegakkan. Jika memang operasi diperlukan, lebih baik jangan menundanya.

“Tidak semua kasus osteoarthritis memerlukan operasi. Pada stadium awal, penyakit itu ditangani dengan obat-obatan dan pemantauan berkala untuk melihat perkembangannya. Operasi diperlukan ketika penyakit sudah mencapai stadium lanjut. Dokterlah yang akan memutuskan berdasarkan hasil pemeriksaan,” pungkas Andito.