Penanganan Pembesaran Prostat Jinak dengan Terapi Laser

dr. Gideon FP Tampubolon Prostat

Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) atau biasa disebut Pembesaran Prostat Jinak adalah suatu kondisi medis yang ditandai dengan pembesaran kelenjar prostat yang terletak persis di depan rektum, di antara penis dan kandung kemih.

Pembesaran prostat jinak mengelilingi uretra, sebuah saluran kecil yang menghubungkan kandung kemih ke alat kelamin yang fungsi utamanya merupakan pembawa urine dari kandung kemih dan keluar dari tubuh. Ketika kelenjar prostat membesar, kelenjar tersebut mempersempit uretra. Jika tidak diobati, kelenjar ini akan menutup saluran urine dan menyebabkan masalah buang air kecil.

Pembesaran prostat jinak umumnya terjadi pada pria. Hampir 50% pria di atas usia 75 tahun akan menunjukkan beberapa gejala pembesaran prostat jinak. Namun kondisi ini seringkali tidak dianggap sebagai masalah yang serius seperti kanker atau penyakit lainnya.

Padahal dampaknya bisa sangat menggangu. Kebanyakan, (meski tidak semua) pria dengan kondisi ini akan mengalami masalah pelepasan kemih dari tubuh mereka. Dalam banyak kasus, urine tidak akan mengalir dengan lancar.

Meskipun pembesaran prostat jinak bukanlah masalah serius, namun dapat menjadi penyebab utama dari masalah serius lain, seperti infeksi kandung kemih, batu di kandung kemih, atau kerusakan ginjal. Untungnya, masalah ini bukanlah salah satu penyebab kanker.

Apa Penyebabnya?

Meskipun sebagian besar dari laki-laki yang berusia 50 tahun ke atas mengalami BPH, tetapi kondisi ini dikenal sebagai bagian dari proses
alami penuaan. Sayangnya, penyebab utama dari kondisi ini belum dipahami. Namun, diyakini bahwa beberapa penyebab utama BPH adalah perubahan keseimbangan hormon, genetika, dan faktor pertumbuhan sel.

Apa Saja Gejala Utamanya?

Pembesaran prostat jinak adalah penyakit dengan gejala seperti sering buang air kecil, terutama pada malam hari. Namun, disamping kebutuhan
untuk buang air kecil, seseorang dengan penyakit BPH tidak mampu atau pada awalnya mengalami kesulitan untuk buang air kecil. Ketika urine mulai mengalir, bukannya mengalir dengan lancar, kekuatan aliran sangat lemah dan biasanya diakhiri dengan tetesan dan perasaan bahwa kandung kemih belum kosong.

Gejala utama lainnya dari pembesaran prostat jinak adalah ketidakmampuan untuk menunda atau menghentikan buang air kecil ketika sudah dikeluarkan (diberhentikan secara tiba-tiba). Pada kasus yang lebih parah, seseorang dengan pembesaran prostat jinak tidak akan mampu untuk buang air kecil sama sekali.

Ketika ini terjadi dan kandung kemih sudah terinfeksi atau terbentuk batu di kandung kemih, gejala lain yang berhubungan dengan infeksi atau penyakit lainnya dapat muncul.

Penanganan dengan Terapi Laser

Sebelumnya, penanganan BPH dikenal dengan istilah Transurethral Resection of the Prostate (TURP). Metode ini dilakukan dengan memasukkan alat khusus ke uretra yang kemudian mereseksi (mengerok) prostat yang membesar hingga tidak ada sumbatan pada uretra. Jaringan yang telah direseksi akan dikeluarkan dan pasca operasi dipasang kateter sebagai “drain” urine.

Seiring dengan kemajuan teknologi, sejak tahun 1990-an ditemukan metode penanganan dengan menggunakan terapi laser. Menurut dr. Gideon FP Tampubolon, Sp.U, Dokter Spesialis Urologi RS Premier Bintaro, dengan terapi laser, pemulihan pasien akan menjadi lebih cepat.

“Pada prinsipnya penanganan baik dengan TURP maupun laser hampir sama, yakni dengan memasukan alat melalui lubang kencing. Namun dengan menggunakan energi laser tinggi, pendarahan pasca operasi sangat minimal” ujar dr. Gideon.

Manfaat lain penanganan dengan laser adalah masa pemulihan pasien yang lebih cepat dibandingkan penanganan dengan TURP. Secara tahapan,
penanganan dengan laser hampir sama dengan tindakan-tindakan lainnya. Setelah didiagnosa, pasien akan dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh, dan sudah masuk ke ruang perawatan sehari sebelum dilakukan tindakan.

“Seperti yang diutarakan di atas, dengan laser, pendarahan yang terjadi dapat jauh diminimalisir. Bahkan bagi pasien yang menggunakan obat pengencer darah sekalipun bisa tetap ditangani. Masa rawat pasien pun jadi lebih singkat, 3-4 hari biasanya pasien sudah diperbolehkan untuk pulang, baru setelah itu tinggal menjalani proses pemulihan,” dr. Gideon menjelaskan.

Proses pemulihan dilakukan bertahap. Pada satu bulan pertama, pasien tidak diperbolehkan untuk melakukan aktivitas berat seperti naik tangga, bersepeda ataupun sepeda motor, beraktivitas dengan mobil, karena dikhawatirkan terjadi pendarahan akibat guncangan. “Melakukan hubungan suami istri juga tidak boleh dilakukan selama fase pemulihan itu,” tegas dr. Gideon.

Adakah Faktor Risiko dan Kemungkinan Kambuh?

Setiap tindakan invasif, tentu memiliki faktor risiko, termasuk risiko penanganan pembesaran prostat jinak dengan laser. Risiko itu antara lain impotensi, dan ejakulasi retrograde, yakni sperma yang keluar saat ejakulasi masuk kembali ke kandung kemih, bukan keluar melalui penis sehingga menyebabkan sulit mempunyai keturunan.

“Angka kejadian risiko impotensi hanya sekitar 5%. Sedangkankan risiko mengalami ejakulasi retrograde cukup besar, yakni sekitar 75%. Kenapa bisa terjadi? Karena bisa saja saat penanganan ada saraf-saraf yang mengalami cidera,” dr. Gideon menerangkan.

Oleh karena itu menurutnya, sebelum dilakukan tindakan faktor risiko akan diberitahukan terlebih dahulu kepada pasien. Pasien yang sudah ditangani tidak dijamin 100% bebas dari kekambuhan. Biasanya setelah 5 tahun, gejala kekambuhan kadang datang. Namun menurut dr. Gideon, hal tersebut tidak perlu dikhawatirkan.

“Pasien kami anjurkan untuk kontrol minimal sekali dalam satu tahun. Dan bila gejala kekambuhan dirasakan, kita akan berikan obat untuk penanganannya.” tutup dr. Gideon.

lobby