Terapi Operatif Atasi Skoliosis

Skoliosis masih belum akrab di telinga masyarakat Indonesia. Tetapi bukan berarti kelainan tulang belakang (skoliosis) itu tak ada di Tanah Air. Pasalnya, pakar kesehatan mengatakan sebanyak 2% dari suatu populasi penduduk mengalami skoliosis. Sebanyak 10% dari kelompok penyandang skoliosis itu tergolong berat. Apa sebenarnya skoliosis? Skoliosis sebenarnya berasal dari kata ‘skolios’ yang berarti bengkok. Pembengkokan tulang belakang itu selalu bergerak ke arah samping. Namun jika dilihat dari belakang, pembengkokan ke arah kanan atau kiri. Tetapi umumnya bengkoknya ke arah kiri. Oleh karena itu, secara harfiah skoliosis itu pembengkokan tulang ke arah samping.

Jenis skoliosis sangat banyak. Namun dari banyak jenis itu, terdapat skoliosis yang disebut idiophatic scoliosis atau skoliosis idiofatik. Kenapa disebut idiofatik? . idiofatik berasal dari dua kata ‘idiot’ yang berarti tidak tahu. Kata fatik dari fatologi yang berarti kelainan. Jadi skoliosis idiofatik berarti suatu keadaan yang tidak diketahui penyebabnya kenapa tulang belakang atau punggung orang mengalami pembengkokan.

Skoliosis bukanlah penyakit. Skoliosis tak berbeda bentuk telinga satu orang yang berbeda dengan sebagian besar orang. Tetapi masalahnya, ada skoliosis yang mengalami progres. Data menunjukkan sebanyak 10% dari penyandang skoliosis yang mengalami progres. Penyandang skoliosis idiofatik bisa beraktivitas normal sehari-hari. Mereka tidak mengalami kelainan berarti. Tetapi bila skoliosisnya mengalami progres, orang yang menyandangnya akan mengalami gangguan fungsi.

Penyandang skoliosis mengalami rasa sakit pada punggung, pinggang, leher. Kemungkinan pula terjadi gangguan paru-paru, dan pernapasannya. Bahkan dapat terjadi kelainan pada jantung dan pecernaan.Sesuai pertambahan waktu, pembengkokan tulang punggungnya semakin parah. Bahkan orang tersebut sampai tak mampu mengunyah dan mencerna dengan baik. Jika sudah begitu, progesif skoliosisnya harus disetop karena sangat membahayakan

Penanganan skoliosis terdapat dua cara yaitu cara non operatif dan operatif. Tetapi penanganan itu memiliki empat tujuan.

  1. Menghentikan progres tulang.
  2. Membuat badan lebih seimbang.
  3. Dikoreksi agar tampil lebih baik.
  4. Penyandangnya diharap bisa hidup lebih baik.

Cara nonoperatif biasanya dilakukan berupa olahraga seperti renang, perenggangan, fisioterapi, dan olahraga punggung. Tujuannya tak lain untuk menguatkan otot punggung. Tetapi hal itu hanya untuk pembengkokannya di bawah 20 derajat. . Untuk pembengkokan yang mencapai 20 derajat hingga 40 derajat harus menggunakan brace atau rangka. Rangka itu bisa dipakai di badan atau di leher untuk mengoreksi atau menahan laju progresivitas tersebut.

Untuk pembengkokan yang kurvanya lebih dari 40 derajat sudah tak mungkin dilakukan cara nonoperatif. Untuk mengatasinya tak ada lagi selain cara operatif. Luthfi menjelaskan bahwa operasi dilakukan untuk menghentikan progres. Selain itu, operasi juga bertujuan mengoreksi tulang yang bengkok. “Bagaimana mengoreksinya? Mengoreksinya seperti kita mengoreksi dahan yang bengkok. Dalam operasi, dilakukan pemutaran dan penarikan agar tulang kembeli ke posisi normal dengan didukung baut dan pen,” katanya. Sekarang pasien skoliosis cukup beruntung. Pasalnya RS Premier Bintaro memiliki Spine Center. Ramsay Spine Center adalah pelayanan yang dapat mengatasi seluruh problem tulang belakang secara terpadu dan komprehensif

Dikatakan terpadu karena Ramsay Spine Center RS. Premier Bintaro menangani masalah tulang belakang yang ditangani tim dokter dari berbagai bidang spesialistik seperti dokter spesialis orhtopedi tulang belakang, spesialis neurologi, spesialis neurofisiologi, spesialis rehabilitasi medik, dan spesialis radiologi.

Rs.Premier Bintaro
Jl. MH Thamrin No.1
Sektor 7 Bintaro Jaya
Tangerang 15224 – Indonesia
Tlp: (021)762 5500/600/700
Fax: (021)7455 800
rs.premier.bintaro@ramsayhealth.co.id

Skoliosis1
Skoliosis2